Langsung ke konten utama

GENJER-GENJER

Seorang teman menulis didinding facebooknya : sebuah radio swasta didemo sekelompok masyarakat gara gara memutar lagu Genjer Genjer ( GG ). Bagi generasi muda yang lahir sesudah tahun 1965 tentu tidak paham sedikitpun lagu GG. Akhir tahun 1965 Lagu GG seolah menghilang ditelan bumi,tak seorangpun berani mengucapkan walau hanya judulnya saja, apalagi menyanyikannya. Lho?,memang kenapa?. Sesungguhnya lagu apa sih GG itu ?.
GG adalah lagu daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu tersebut terkenal sekitar tahun 1965, secara nasional GG dipopulerkan oleh penyanyi Bing Slamet dan Lilies Suryani (dua penyanyi top masa itu). Pola melodi lagu tersebut terasa sekali warna daerahnya, begitu juga lompatan lompatan nadanya (intervalnya) sangat tradisional. Banyuwangi memang mempunyai ciri tersendiri pada produk produk seni musik tradisionalnya. Perpaduan yang cantik antara budaya Jawa dengan budaya Bali, sehingga sangat khas dan berbeda dengan pola pola melodi dari daerah lain di Jawa Timur.Tangganadanya memakai tangganada minor yang khas, tidak seperti tangganada minor umumnya yaitu nada sol menjadi sol kres, tetapi dalam lagu Banyuwangi nada sol tetap sol. Dalam teori musik diatonis, tangganada semacam itu dinamai Tangganada Minor Asli (Natural minor). Sekarang mari kita perhatikan isi syairnya : GG nong ledho’an pating keleler/ emake tole teko teko mbubuti genjer/ oleh sa’tenong mungkur sedot sing tolah toleh/ GG esuk esuk didol nong pasar/dijejer jejer diuntingi pada didasar/ema’e jebeng pada tuku gowo welasar/GG saiki wis arep diolah.
Isi lagu tersebut bercerita tentang warga didesa yang mencari tumbuhan Genjer (sejenis sayuran yang tumbuh secara liar dilumpur, dipematang sawah) untuk dijual dipasar. Hanya itu isi syair lagu GG, tidak ada yang istimewa. Jadi kenapa diakhir 1965 lagu itu tiba tiba hilang dari peredaran dan harus didemo ketika ada radio swasta yang mencoba menyiarkannya di tahun 2010 ini?. Sesungguhnya GG adalah lagu “netral”, tak membawa pesan politis apapun. Menjadi “tidak netral” ketika Lekra (lembaga kebudayaan dibawah PKI) mempromosikan besar besaran lagu tersebut disetiap kegiatan partainya. Sehingga pada akhirnya masyarakat luas menganggap lagu itu milik PKI. Sekelompok mahasiswa di Yogyakarta yang bukan Komunis mencoba menetralisir lagu tersebut dengan cara mengemasnya dalam bentuk paduan suara , Lagu itu diarransir dalam bentuk paduan suara oleh bung Kalit (panggilan akrab N. Simanungkalit, arranger paduan suara terkemuka di Indonesia). Sayang usaha kelompok non Komunis untuk menetralisir lagu tersebut tak didukung oleh kelompok non Komunis yang lain. Hal ini membuat fihak PKI semakin bebas leluasa menghak-i dan mengklaim lagu tersebut sebagai miliknya. Sehingga usaha menetralisir tidak maksimal, kalau tidak boleh dikatakan gagal. Sebagai ilustrasi: film Pengkianatan G30S/PKI ilustrasi musiknya banyak memakai tema dari lagu GG. 





Sementara itu, masyarakat kita mempunyai kebiasaan membuat simbol simbol pada kelompoknya/golongannya maupun partainya diberbagai macam hal. Sebagai contoh disekitar tahun 1965 setiap organisasi masa ataupun organisasi politik mempunyai istilah khusus untuk hari ulang tahunnya. Kalau memakai istilah “Ultah” (ulang tahun) itu pasti dari partai A, kalau memakai istilah “Harba” (Hari Bangkit) itu pasti dari partai B, begitu juga kalau “Harlah” (hari lahir) itu ormas C, kalau H.U.T. (Hari Ulang Tahun) pasti dari golongan yang lain lagi. Sehingga akhirnya tercitra, kalau ada baliho tertulis “Ultah” pasti dari partai A, begitu juga kalau tertulis “Harba” masyarakat umum segera tahu baliho itu pasti dari partai B. Begitu juga untuk istilah istilah yang lain. 
Sesungguhnya tidak salah atau sah sah saja sebuah organisasi mencoba memberi ciri pada organisasinya, misalnya warna seragam bajunya, yel yelnya lagu Mars dan Hymnenya. Namun ketika sebuah lagu yang ditulis oleh penciptanya tidak dimaksudkan untuk keperluan politik, tapi kemudian masyarakat menjadi takut menyanyikan, hal ini tentu akan mensengsarakan komposernya. Sang komponis yang ingin memotret kehidupan rakyat kecil dengan jujur kemudian diekspresikan lewat lagu tanpa pretensi lain tapi kemudian tak mungkin dinyanyikan, bisa bisa mematikan kreatifitas komponis itu sendiri. Tapi Okaylah, peristiwa “takut menyanyi” itu terjadi ditahun 1965, ketika emosi masih diubun ubun dan politik masih manjadi panglima (ingat grup band Koes Bersaudara sekarang Koes Plus pernah dikirim ke penjara hanya karena menyanyi). Kini ditahun 2010, ketika Hukum menjadi panglima, dan kesadaran hukum sudah tinggi, ( sesungguhnya tidak ada aturan hukum yang melarang lagu tersebut), tapi ternyata masih ada demo menentang lagu itu, tentu perlu dicari jawabnya. 
Saya merenung mencari jawabnya, akhirnya saya menyimpulkan, begini : Kalau stasiun radio tersebut menyiarkan GG dengan tujuan “menetralkan” lagu itu menjadi apa adanya, tentu ini hal baik dan akan sayang kalau didemo. Tapi bila radio tersebut sengaja menyiarkan dengan maksud menjaga agar lagu itu “tetap tidak netral” sambil bernostalgia “membuka luka lama” tentunya sangat disayangkan. Tapi seperti bunyi peribahasa : “Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu” yang bisa menjelaskan adalah penanggung jawab siaran radio tersebut. Sementara difihak pendemo, (barangkali) dari pada susah susah mencari jawabnya “menjaga netralitas atau menjaga supaya tetap tidak netral” enaknya didemo saja. . . . Wah . . . wah . . . wah . . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Musik Indonesia

HARI MUSIK INDONESIA 09 MARET, . . LALU . . . .  Banyak yang belum tahu, tanggal 09 Maret adalah Hari Musik Indonesia. Padahal Hari Musik Indonesia tersebut sudah dicanangkan lebih sewindu yang lalu, dimasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Tanggal 09 Maret dipilih sebagai Hari Musik Indonesia atas usulan PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), karena hari itu adalah hari lahir pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya WR Soepratman 09 Maret 1903. Sayangnya gaung dihari itu tak terasa sama sekali. Di salah satu Televisi swasta seorang presenter hanya menyebutkan hari itu adalah hari musik Indonesia lalu kemudian dia kembali kepada acara yang dibawakannya, tanpa sedikitpun ulasan tentang hari musik itu sendiri, misalnya mengajak audiens mengenang sejenak WR Soepratman yang berjasa menciptakan lagu yang terbukti mampu menyemangati, mengilhami para pejuang bangsa mencapai kemerdekaan Indonesia. Di Perancis (yang hari musik diperingati seti...

LAGU ANAK

Waktu berlalu, jaman sudah berubah, anak anak sekarang sudah tak tertarik lagi menyanyikan lagu “Balonku ada lima” atau “Naik naik kepuncak gunung”. Mereka lebih fasih menyanyikan lagunya NIDJI, ST 12, GEISHA atau KERIS PATIH, atau penyanyi solo Afgan,Vidi Aldiano, AgnesMonica dll. Secara teknis lagu lagu Pop tersebut lebih sulit dinyanyikan karena lompatan nadanya (intervalnya) yang rumit, begitu juga pola ritme yang variatif. Tapi tokh, anak anak masa sekarang mampu menyanyikan dengan pitch controle yang tepat, begitu pula pembawaannya rata rata juga bagus. Tengok saja dilomba lomba nyanyi anak di Televisi, mulai tekhnik vocalnya, pembawaannya sampai performancenya rata rata bagus bahkan mendekati sempurna. Persoalannya sekarang adalah, apa cocok lagu orang dewasa untuk anak-anak?. Saya secara pribadi tak terlalu risau dengan fenomena ini, mengapa ? Karena, Musik itu sesungguhnya adalah bahasa bunyi. Jadi ketika seseorang menyanyi yang dirasakan dan dinikmati adalah keindahan bunyi i...

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI.

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI. Seorang remaja putri usia 17 tahunan ngrumpi : “Aku gak tahu lho, kalau Briptu itu pangkat dalam kepolisian, aku pikir itu nama lengkap Norman Kamaru, eh . . ternyata itu pangkatnya Norman”. Remaja itu lalu meneruskan : “ Yang aku tahu itu Sersan, Kopral, Kapten, Jenderal”. Cerita diatas menunjukan betapa Norman Kamaru secara tidak sengaja telah menjadi duta Kepolisian, mempublikasikan dan memperkenalkan “Apa dan Siapa” Kepolisian, dengan . . maaf . . . beaya yang murah, tapi berhasil dengan sukses. Norman berhasil memberi citra yang bagus dan positif bagi Kepolisian. Betapa tidak?, banyak orang (termasuk remaja tadi) makin tahu dimana Gorontalo itu, bahkan tahu siapa Kapolda Gorontalo. Atau kalau tidak percaya, coba tanya siapa Komandan Satuan Brimob Polda Gorontalo ? sekarang banyak yang tahu lho.  Berikut ini ada cerita semacam itu yang pernah saya baca : Suatu ketika Kedutaan Besar Republik Indonesia di salah satu negara Er...