Langsung ke konten utama

Musafir Isfanhari : Hargailah Musisi Indonesia

actasurya.com – Pria kelahiran 22 Desember 1945 ini adalah seorang composer lagu dan seorang arranger. Tepat pada tahun 2015, Musafir Isfanhari mendapat penghargaan Cipta Karya Kencana dari Presiden Joko Widodo, yaitu penghargaan yang diberikan kepada tenaga program yang telah melakukan karya yang menonjol dalam pengembangan konsepsi, inovasi, dan sistem yang bermanfaat.
“Sejak tahun 1982 saya merasa teraniaya, laguku direkam, dijual tanpa mendapat royalti dan akhirnya Tuhan punya rencana lain. Akhirnya tahun 2015 saya bisa salaman dengan Presiden Joko Widodo, itu suatu kehormatan bagi saya,” tuturnya sambil tersenyum.
Tak hanya seorang pencipta lagu, Musafir Isfanhari adalah seorang arranger, yaitu orang yang mengarsemen kembali musik yang sudah ada. Lagu paling terkenal yang pernah ia arasemen adalah lagu Jasamu Guru. Ketika ditanya mengenai lagu ini, ia menegaskan bahwa masyarakat sebetulnya salah. “Saya hanya mengarasemen lagu tersebut, saya bukan penciptanya,” tegasnya.  
Jauh sebelum ia dikenal, Isfanhari begitu panggilan akrabnya, memulai karir bermusiknya dengan bersekolah di Sekolah Musik Indonesia dan Akademik Musik Indonesia di Yogyakarta tahun 1962.
Berawal dari sang Ibu, Isfanhari mulai mengenal dunia musik. Ia mengatakan bahwa setiap sore setelah ia mengaji selalu diajak oleh ibunya untuk latihan bernyanyi. “Ibu saya adalah seorang guru ngaji, tapi setiap habis Isya, ia selalu mengajak saya bernyanyi,” ujarnya. Dari situlah ia mulai tertarik dengan dunia musik.
Setelah menenpuh pendidikan sekolah musik. Ia kemudian menjadi guru musik di salah satu sekolah di Banyuwangi. Setelah sepuluh tahun lamanya mengajar, ia kembali ditempatkan di kantor kesenian Cak Durasim di Surabaya.
Isfanhari lebih dikenal masyarakat dengan karya musik bergenre keroncong. Padahal ia menekuni musik beraliran klasik. Ini berawal ketika ia sedang menciptakan lagu tentang Kelurga Berencana sekitar tahun 1970-an. Karena pada tahun itu pemerintah sedang menggalakan program Keluarga Berencana (KB).
Ia mendukung program pemerintah ini dengan menciptakan lagu Keluarga Berencana dengan versi dangdut dan keroncong. Adanya dua genre musik ini dikarenakan pada waktu itu di desa Kalirejo tempat ia mengajar menyukai dua jenis musik, yakni dangdut dan keroncong.
Tahun 1979 ia ikutkan lagu keroncong ciptaanya yang berjudul Keluarga Berencana itu di ajang lomba cipta lagu keroncong tingkat nasional di Surabaya. Tak dinyana, lagunya pun memenangkan lomba.
Sekarang lagu itu diedarkan di Youtube. Tapi Isfanhari sendiri tak tahu siapa yang merekam dan mengedarkannya. Ia baru tahu bahwa lagunya dibajak ketika ia jalan-jalan melihat salah satu tokoh kaset yang sedang memutar lagunya, keroncong Keluarga Berncana itu. “Lagunya didengar orang banyak tapi saya tak dapat apa-apa. Tapi ya sudah saya iklhaskan,”ucapnya.
Tapi Isfanhari patut bersyukur karena lagu itu memang dibajak dan diedarkan secara bebas di Youtube. Karena berkat Youtube lah pihak BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasinonal) lagu Keluarga Berencana tersebut digunakan untuk mempromosikan program Keluarga Berencana.
Diakhir wawancara ia menyelipkan sedikit harapan terhadap masyarakat Indonesia untuk menghargai karya-karya musisi Indonesia. “Hargailah karya serta musisi-musisi Indonesia. Karena musisi Indonesia sudah memiliki kemampuan yang bagus. Cuma karena masyarakatnya sendiri belum menerima dan mengakui itu. Jadi akhirnya timbulah ketidak percayaan diri,” tutupnya. (N/F: Abi, Ardini)


diambil dari actasurya.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Musik Indonesia

HARI MUSIK INDONESIA 09 MARET, . . LALU . . . .  Banyak yang belum tahu, tanggal 09 Maret adalah Hari Musik Indonesia. Padahal Hari Musik Indonesia tersebut sudah dicanangkan lebih sewindu yang lalu, dimasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Tanggal 09 Maret dipilih sebagai Hari Musik Indonesia atas usulan PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), karena hari itu adalah hari lahir pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya WR Soepratman 09 Maret 1903. Sayangnya gaung dihari itu tak terasa sama sekali. Di salah satu Televisi swasta seorang presenter hanya menyebutkan hari itu adalah hari musik Indonesia lalu kemudian dia kembali kepada acara yang dibawakannya, tanpa sedikitpun ulasan tentang hari musik itu sendiri, misalnya mengajak audiens mengenang sejenak WR Soepratman yang berjasa menciptakan lagu yang terbukti mampu menyemangati, mengilhami para pejuang bangsa mencapai kemerdekaan Indonesia. Di Perancis (yang hari musik diperingati seti...

LAGU ANAK

Waktu berlalu, jaman sudah berubah, anak anak sekarang sudah tak tertarik lagi menyanyikan lagu “Balonku ada lima” atau “Naik naik kepuncak gunung”. Mereka lebih fasih menyanyikan lagunya NIDJI, ST 12, GEISHA atau KERIS PATIH, atau penyanyi solo Afgan,Vidi Aldiano, AgnesMonica dll. Secara teknis lagu lagu Pop tersebut lebih sulit dinyanyikan karena lompatan nadanya (intervalnya) yang rumit, begitu juga pola ritme yang variatif. Tapi tokh, anak anak masa sekarang mampu menyanyikan dengan pitch controle yang tepat, begitu pula pembawaannya rata rata juga bagus. Tengok saja dilomba lomba nyanyi anak di Televisi, mulai tekhnik vocalnya, pembawaannya sampai performancenya rata rata bagus bahkan mendekati sempurna. Persoalannya sekarang adalah, apa cocok lagu orang dewasa untuk anak-anak?. Saya secara pribadi tak terlalu risau dengan fenomena ini, mengapa ? Karena, Musik itu sesungguhnya adalah bahasa bunyi. Jadi ketika seseorang menyanyi yang dirasakan dan dinikmati adalah keindahan bunyi i...

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI.

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI. Seorang remaja putri usia 17 tahunan ngrumpi : “Aku gak tahu lho, kalau Briptu itu pangkat dalam kepolisian, aku pikir itu nama lengkap Norman Kamaru, eh . . ternyata itu pangkatnya Norman”. Remaja itu lalu meneruskan : “ Yang aku tahu itu Sersan, Kopral, Kapten, Jenderal”. Cerita diatas menunjukan betapa Norman Kamaru secara tidak sengaja telah menjadi duta Kepolisian, mempublikasikan dan memperkenalkan “Apa dan Siapa” Kepolisian, dengan . . maaf . . . beaya yang murah, tapi berhasil dengan sukses. Norman berhasil memberi citra yang bagus dan positif bagi Kepolisian. Betapa tidak?, banyak orang (termasuk remaja tadi) makin tahu dimana Gorontalo itu, bahkan tahu siapa Kapolda Gorontalo. Atau kalau tidak percaya, coba tanya siapa Komandan Satuan Brimob Polda Gorontalo ? sekarang banyak yang tahu lho.  Berikut ini ada cerita semacam itu yang pernah saya baca : Suatu ketika Kedutaan Besar Republik Indonesia di salah satu negara Er...