Langsung ke konten utama

MUSIKALISASI PUISI



Sesuai dengan namanya, Musikalisasi puisi ( ada yang menyebutkan Poetry Singing , Musik Puisi, Tembang Puitik),adalah memusikkankan puisi. Tujuannya untuk memberi makna yang lebih jelas pesan yang ingin disampaikan dari isi puisi tersebut. Dalam catatan sejarah musik Indonesia modern, Musikalisasi Puisi bermula dari kerja sama yang bagus antara sastrawan Sanusi Pane dengan musikus Cornel Simanjuntak menghasilkan beberapa lagu seriosa yang indah antara lain berjudul Kemuning, Oh Angin. Hasil yang indah itu dilanjutkan oleh RAJ Soedjasmin pemusik sejaman dengan Binsar Sitompul (pencipta lagu Andhika Bhayangkari). Soedjasmin tertarik dengan puisi berjudul Aku ciptaan Chairil Anwar, ketertarikannya diwujudkan dengan membuatkan sebuah komposisi musik untuk puisi tersebut. Komposisi Seriosa yang kemudian diberi judul Semangat itu, sangat terkenal dikalangan penyanyi seriosa. Soedjasmin juga membuat komposisi untuk karya Chairil Anwar yang berjudul Lagu Biasa. Ditahun 1960an FX Soetopo, komponis (jabatan terakhir Direktur kesenian DitJen Kebudayaan Depdikbud) tertarik juga dengan puisi ciptaan Chairil, salah satunya Cintaku Jauh di Pulau yang akhirnya menjadi sebuah lagu yang bagus( jenis seriosa) dan menjadi lagu yang sering dijadikan lagu wajib pada lomba- lomba lagu seriosa.Selain itu FX Soetopo juga bekerja sama dengan penyair Kirjo Mulyo , kerja bareng ini menghasilkan lagu-lagu antara lain Puisi Rumah Bambu, Elegie dll.Ditahun 1970an, pemusik pop Bimbo bekerja sama dengan penyair Taufiq Ismail menghasilkan lagu-lagu Pop Nasyid, antara lain : Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya, Sajadah Panjang, Rindu Rosul dll. Lalu ditahun 1980an Liliek Soegiarto pemusik sekaligus arranger paduan suara yang handal, menulis lagu berdasarkan puisi ciptaan penyair angkatan Pujangga Baru Amir Hamzah berjudul Doa. Terakhir ditahun 2000an, pemusik Ananda Sukarlan menulis lagu untuk vokal berdasarkan dari puisi penyair Gunawan Muhammad dan Sapadi Djoko Damono. Antara lain Sajak untuk Bungbung, Perjalanan Malam, Fana adalah Waktu.
Proses terjadinya penciptaan Musikalisasi Puisi: Ada 2 (dua) cara, yang pertama pemusik menawarkan karyanya kepada penyair untuk diberi syair atau sebaliknya penyair menawarkan karyanya kepada pemusik untuk diberi melodinya. Contohnya adalah kerja sama antara Bimbo dengan penyair Taufiq Ismail. Cara yang kedua, pemusik tertarik pada puisi yang sudah ada dan kemudian diberi melodinya. Contohnya, Lagu Biasa puisi ciptaan Chairil Anwar yang ditulis 1943 ini, baru ditulis musiknya oleh RAJ Soedjasmin tahun 1955. Tapi apa cuma itu proses penciptaan Musikalisasi Puisi dan kemudian jadilah sebuah ciptaan baru?. Ternyata tidak sesederhana itu, ada hal hal yang harus diperhatikan oleh kedua pemusik dan penyair agar ciptaan itu bisa menjadi karya yang sempurna.




Hal yang pertama, adalah melodi dari musik harus sesuai dengan pesan syairnya atau sebaliknya, karena kalau tidak sesuai bahkan bertentangan akan menjadi sesuatu yang kurang bagus. Contoh kasus : perhatikan lagu berjudul Naik Naik Kepuncak Gunung. Pada syair Tinggi tinggi sekali, pola melodi justru bergerak turun, ini tentu kurang pas. Contoh yang pas misalnya : lagu Joy to the World , perhatikan syairnya, Kalimat 1: Joy to the world, the Lord is come. kalimat 2 :Let earth recieve the King. Pada kalimat pertama (Frase 1) musik dimulai dari C’’ (Do atas) bergerak turun secara berurutan ke C’ (Do bawah), ini sesuai dengan pesan syair “the Lord is come” The Lord (Tuhan)dibayangkan datang dari tempat yang tinggi/atas, sehingga pola melodi juga bergerak dari atas turun kebawah. Sebaliknya di kalimat ke 2, pada syair “Let earth recieve the King” pola melodi bergerak naik dari G’ (sol rendah) menuju ke C’’(Do atas) sesuai dengan pesan syairnya.
Hal kedua, setiap lagu dan puisi punya struktur kalimat yang harus diperhatikan. Menempatkan struktur kalimat puisi yang tidak sesuai dengan struktur melodi berakibat kurang jelasnya makna dari puisi itu sendiri. Sebagai contoh pada lagu “First love”. Perhatikan kalimat syairnya (baris pertama): They all say, I’am not the same kid, baris kedua I use to be. Tapi kalau kita denganr lagunya, akan terdengar begini: They all say, I’am not the same sedang baris kedua menjadi Kid I use to be. Kata Kid, yang seharusnya masuk kebaris pertama, “terpaksa” masuk kebaris kedua mengikuti struktur musiknya. Akibatnya maknanya jadi kabur. Contoh yang lain , lagu berjudul Rindu, syair sepenuhnya mengikuti struktur musiknya membuat arti dan maknanya menjadi tidak jelas. Perhatikan syairnya : Rindu Lukisan/ mata suratan/hatiku nan merindu. Kalau struktur musik diubah mengikuti struktur syairnya barangkali maknanya menjadi jelas, misalnya : Rindu lukisan mata/ suratan hatiku nan merindu.
Musikalisasi puisi masih kurang pelakunya, ini karena mecipta musik puisi lebih rumit. Masyarakat umum berharap ada pemusik dan penyair bisa berkolaborasi melahirkan musik yang indah dari isi musiknya dan indah juga dari sisi syairnya. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Musik Indonesia

HARI MUSIK INDONESIA 09 MARET, . . LALU . . . .  Banyak yang belum tahu, tanggal 09 Maret adalah Hari Musik Indonesia. Padahal Hari Musik Indonesia tersebut sudah dicanangkan lebih sewindu yang lalu, dimasa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Tanggal 09 Maret dipilih sebagai Hari Musik Indonesia atas usulan PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), karena hari itu adalah hari lahir pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya WR Soepratman 09 Maret 1903. Sayangnya gaung dihari itu tak terasa sama sekali. Di salah satu Televisi swasta seorang presenter hanya menyebutkan hari itu adalah hari musik Indonesia lalu kemudian dia kembali kepada acara yang dibawakannya, tanpa sedikitpun ulasan tentang hari musik itu sendiri, misalnya mengajak audiens mengenang sejenak WR Soepratman yang berjasa menciptakan lagu yang terbukti mampu menyemangati, mengilhami para pejuang bangsa mencapai kemerdekaan Indonesia. Di Perancis (yang hari musik diperingati seti...

LAGU ANAK

Waktu berlalu, jaman sudah berubah, anak anak sekarang sudah tak tertarik lagi menyanyikan lagu “Balonku ada lima” atau “Naik naik kepuncak gunung”. Mereka lebih fasih menyanyikan lagunya NIDJI, ST 12, GEISHA atau KERIS PATIH, atau penyanyi solo Afgan,Vidi Aldiano, AgnesMonica dll. Secara teknis lagu lagu Pop tersebut lebih sulit dinyanyikan karena lompatan nadanya (intervalnya) yang rumit, begitu juga pola ritme yang variatif. Tapi tokh, anak anak masa sekarang mampu menyanyikan dengan pitch controle yang tepat, begitu pula pembawaannya rata rata juga bagus. Tengok saja dilomba lomba nyanyi anak di Televisi, mulai tekhnik vocalnya, pembawaannya sampai performancenya rata rata bagus bahkan mendekati sempurna. Persoalannya sekarang adalah, apa cocok lagu orang dewasa untuk anak-anak?. Saya secara pribadi tak terlalu risau dengan fenomena ini, mengapa ? Karena, Musik itu sesungguhnya adalah bahasa bunyi. Jadi ketika seseorang menyanyi yang dirasakan dan dinikmati adalah keindahan bunyi i...

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI.

CHAIYYA CHAIYYA, NORMAN KAMARU DAN SIKAP KAPOLRI. Seorang remaja putri usia 17 tahunan ngrumpi : “Aku gak tahu lho, kalau Briptu itu pangkat dalam kepolisian, aku pikir itu nama lengkap Norman Kamaru, eh . . ternyata itu pangkatnya Norman”. Remaja itu lalu meneruskan : “ Yang aku tahu itu Sersan, Kopral, Kapten, Jenderal”. Cerita diatas menunjukan betapa Norman Kamaru secara tidak sengaja telah menjadi duta Kepolisian, mempublikasikan dan memperkenalkan “Apa dan Siapa” Kepolisian, dengan . . maaf . . . beaya yang murah, tapi berhasil dengan sukses. Norman berhasil memberi citra yang bagus dan positif bagi Kepolisian. Betapa tidak?, banyak orang (termasuk remaja tadi) makin tahu dimana Gorontalo itu, bahkan tahu siapa Kapolda Gorontalo. Atau kalau tidak percaya, coba tanya siapa Komandan Satuan Brimob Polda Gorontalo ? sekarang banyak yang tahu lho.  Berikut ini ada cerita semacam itu yang pernah saya baca : Suatu ketika Kedutaan Besar Republik Indonesia di salah satu negara Er...